Toksisitas Limbah Pengeboran Minyak (Hefni Effendi)

TOKSISITAS LIMBAH PENGEBORAN MINYAK 
TERHADAP BENUR UDANG WINDU (Penaeus monodon) 
TOXICITY OF DRILLING WASTE ON LARVAE OF SHRIMP (Peaneus monodon) 

Hefni Effendi1), Bagus Amalrullah Utomo2), dan Yusli Wardiatno3) 
1)Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB, Bogor 
2,3)Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, IPB, Bogor 
Email: 1)hefni_effendi@yahoo.com; 2)bagz_suede@yahoo.co.id, 3)ywardiatno@hotmail.com 

dikirim 7 Agustus 2010, diterima setelah perbaikan 8 Januari 2011 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi limbah pengeboran minyak berupa lumpur bor bekas (used mud) yang dapat menyebabkan kematian 50% (LC50) post larva (PL) 19 Udang Windu (Penaeus monodon) melalui bioassay. Nilai LC50 selanjutnya dapat memberikan gambaran sifat toksik dari limbah pemboran minyak. Data toksisitas limbah tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperlakukan limbah selanjutnya, apakah boleh dibuang langsung ke lingkungan atau harus dilakukan pengelolaan lebih lanjut untuk menurunkan sifat toksiknya. Pengelolaan limbah pemboran ini mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No.45 Tahun 2006. Limbah pengeboran berasal dari daerah Babelan,Bekasi Utara. Benur udang windu diperoleh dari Hatchery di Tanjung Pasir, Tangerang. Penentuan nilai LC50 dilakukan dengan metode probit menggunakan software EPA Probit Program Version 1.5. Setelah pengamatan 72 hingga 96 jam, sebagian besar benur udang pada seluruh media uji terkecuali kontrol mulai mengalami kematian. Gejala dari benur udang sebelum mati adalah sangat lemah dalam pergerakan dan sangat lemah dalam merespon rangsangan dari luar. Kematian ditandai dengan adanya lendir dan perubahan pada warna tubuh. Berdasarkan hasil analisis probit diperoleh nilai LC50 limbah hasil pengeboran minyak terhadap benur udang Windu (P. monodon) pada pemaparan waktu 24, 48, 72 dan 96 jam adalah berturut-turut 154.333 ppm, 139.862 ppm, 107.169 ppm dan 91.706 ppm. Limbah hasil pengeboran minyak diduga bersifat tidak toksik karena nilai LC50 - 96 jam masih dalam batasan yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu ≥ 30.000 ppm. Oleh karena itu, limbah pengeboran minyak diperkenankan dibuang langsung ke badan air, tanpa keharusan untuk melakukan pengolahan.

Kata kunci: Toksisitas, Bioassay, Penaeus monodon, dan LC50, Probit.


Abstract: Research was aimed to determine toxic concentration of oil drilling waste (cuttings), causing death of 50% (LC50) population of shrimp post larvae of Penaeus monodon through bioassay. LC50 describes toxicity of drilling waste that is utilized for consideration of the next waste handling, whether it is allowed or not to be directly discharged to the environment without prior treatment to decrease its toxicity. Drilling waste handling refers to Ministry of Energy and Mineral Decree No. 045/2006. Drilling waste (cuttings) was collected from Babelan, North Bekasi. P. monodon post larvae were taken from Hatchery in Tanjung Pasir, Tangerang. Software of EPA Probit Program Version 1.5. was applied for counting LC50. After 72 to 96 hours observation, most of the shrimp larve on all test media except controls began to die. Symptoms of shrimp larvae before death die was very weak movement and very weak in response to stimuli from the outside. Death was characterized by the presence of mucus and changes in body color. Based on the results obtained by probit analysis, LC50 value of drilling waste against shrimp (P. monodon) in the exposure time of 24, 48, 72 and 96 hours were 154,333 ppm 139,862 ppm 107,169 ppm and 91,706 ppm, respectively. Drilling waste was not toxic because the value of LC50 - 96 hours is still within the limits set by the government (≥ 30,000 ppm). Thus, drilling waste was allowed to be discharged to the environment without the necessity of prior treatment.

Keywords: Toxicity, Bioassay, Penaeus monodon, and LC50, Probit.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Apr 3, 2012, 6:00 AM
Comments