Studi Taman Atap (Elis Hastuti)

STUDI TAMAN ATAP DIDALAM RETENSI AIR HUJAN

STUDY OF ROOF GARDENS FOR STORMWATER RETENTION

 



Elis Hastuti1) dan Fitrijani Anggraini2)

Puslitbang Permukiman, Balitbang Pekerjaan Umum

Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kab. Bandung 40393

Email: 1)elishastuti@yahoo.com; 2)fitrijania@yahoo.com

 

dikirim 6 Juni 2010, diterima setelah perbaikan 18 Agustus 2010

 

Abstrak: Lahan perkotaan yang terfragmentasi memerlukan peningkatan luas dan fungsi ruang terbuka hijau yang kontinu dalam mengatasi limpasan air hujan. Limpasan hujan yang meningkat dapat dikurangi dengan penyediaan taman atap, sehingga luasan dan komposisi taman atap yang tepat sangat penting. Observasi dilakukan pada beberapa dak taman atap dengan variasi tanaman penyusun sesuai kriteria tanaman untuk taman atap. Tanaman penyusun terdiri dari tanaman penutup tanah dan perdu hias/pohon pada ketinggian media tanam 40 cm. Untuk memprediksikan retensi air, pada tahap stabil digunakan simulasi intensitas curah hujan jangka waktu pendek (2 jam), dengan kategori hujan ringan (kurang dari 1 mm/jam) sampai hujan tinggi (lebih dari10 mm/jam). Pada intensitas hujan tinggi teridentifikasi bahwa limpasan rata rata taman-1 (tanaman penutup, perdu hias dan perdu pohon) yaitu 1,97 L/mnt, taman-2 (tanaman penutup tanah) adalah 2,22 L/menit dan taman-3 (tanaman penutup tanah dan perdu hias/succulent) adalah 5,46 L/menit, dengan retensi lebih dari 85 % untuk taman 1 dan 2, sementara taman 3 sekitar 67 %. Sementara itu pada aplikasi intensitas hujan rendah, variasi tanaman penyusun juga mempengaruhi kemampuan retensi walaupun tidak terlalu jauh berbeda diantara jenis taman. Pada umumnya setiap taman mempunyai kemampuan retensi diatas 99 % dengan debit limpasan dalam rentang (0,3–0,44) ml/mnt. Dengan demikian apabila diterapkan kebiakan taman atap untuk bangunan bertingkat setara dengan dengan kebijakan RTH horizontal, maka ruang hijau atap dengan minimum 40 % dari luas atap akan mampu untuk retensi hujan intensitas tinggi sekitar 30-35 % pada ketinggian media (30 – 40) cm dengan variasi tanaman penutup dan perdu hias atau perdu pohon.

 

Kata kunci: taman atap, retensi, air hujan, tanaman

 

 

Abstract: Improving greenery open space both area and functional values is important for urban stormwater management. Roof garden offers benefits in minimizing stormwater runoff due to increasing impervious area and lacking of stormwater infrastructure in urban area. Research has been done in several roof garden boxes with considering soil and substrate composition, drainage and plant choices. Low growing and maintenance planting based on local weather and plant characteristics including groundcover, low shrub, high shrub and sedum. Rain water simulation for 2 hours applied to 3 garden boxes with high intensity (greater than 10 mm/h) and low intensity (less than 1 mm/h). It indicated at high intensity rain, that average run on from garden-1 (groundcovers, low shrubs dan high shrubs) of 1,97 L/minute, garden-2 (groundcovers) of 2,22 L/minute and garden-3 (groundcovers, low scrubs/succulent) of 5,46 L/minute. Retention capability is more than 85 % for garden-1 and 2, while garden 3 is about 67%. At low intensity rain application, variation of plant didn’t influence too much in water retention, with average more than 99% and run on of 0,3 – 0,44 ml/minute. If roof garden policy is the same as horizontal greenery one so that roof garden application with minimum of 40% total roof area, can retain water 30-35% with media depth 30-40 cm with variation of plants (groundcover, shrub, sedum).

 

Keywords: roof garden, retention, rain water, plant.

 

Ċ
Lingkungan Tropis,
Mar 26, 2012, 9:26 PM
Comments