Studi Potensi Sumber Daya Tanah, Air dan Limbah Ternak (Edy Syafril Hayat)

STUDI POTENSI SUMBER DAYA TANAH, AIR
DAN LIMBAH TERNAK GUNA MENGURANGI
PENGGUNAAN PUPUK ANORGANIK
PADA BUDIDAYA PADI SAWAH RAMAH LINGKUNGAN 

STUDY OF THE POTENTIAL RESOURCE OF SOIL ,WATER
AND LIVESTOCK WASTE TO REDUCE THE USE OF INORGANIC
FERTILIZER IN ECO-FRIENDLY RICE FIELD FARMING SYSTEM 

Edy Syafril Hayat1), Rita Hayati2), dan Sri Andayani3)
Faperta Universitas Panca Bhakti
Jalan Yos Sudarso Pontianak
Email: edysyafrilhayat@yahoo.co.id


Abstrak: Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber daya lokal (tanah , kualitas air, dan ternak) yang berpotensi untuk mendukung pengembangan budidaya padi, secara berkelanjutan. Kegiatan dilakukan dengan dilakukan dengan metode  studi pustaka, survey (tanya jawab dan kuosiner). Hasil penelitian diperoleh luas lahan efektif untuk lahan sawah di Kota Singkawang tahun 2011 adalah 3.395,4943 hektar, sedangkan luas lahan potensial yang dapat dikembangkan untuk pencetakan lahan sawah baru sekitar 5.924,51 ha. Kesuburan alami tanah di lokasi survey rata-rata  rendah, namun ada beberapa lokasi yang tingkat kesuburannya sedang. Untuk itu di perlukan penambahan pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah. Untuk budidaya padi sawah diperlukan penambahan pupuk N (urea) berkisar antara 90 - 220 kg/ha, pupuk P (SP-36) berkisar antara 52,8-130,66 kg/ha, dan pupuk K (KCl) berkisar antara 80 -100 kg/ha, serta pengembalian bahan organik (jerami padi) sekitar 1-3 ton/ha. Keperluan pupuk Urea, SP-36, dan KCl per musim tanam sekitar 429 ton, 248 ton, dan 284. Keperluan pupuk anorganik ini dapat digantikan oleh potensi pupuk organik (kotoran hewan/ternak), dimana hasil kotoran ternak yang dihasilkan setara 777,88 ton Urea, 2149,85 ton SP-36 dan 496,81 ton KCl. Sehingga limbah ternak yang dihasilkan diharapkan dapat mengantikan posisi pupuk anorganik yang biasanya langka saat diperlukan.

Kata kunci: padi sawah, dosis pupuk, pupuk organik, dan pupuk kandang.


Abstract: In particular, this study aims to identify local resources (land, fertilizer dosage, water quality, and cattle) that have the potential to support the development of sustainable rice cultivation, the sub-optimal lands. The activities performed by performed by the method of literature study, survey(question and answer kuosiner).The results obtained for the effective land area of wetland Singkawang in 2011 is 3395.4943 hectares, while the area of land that could potentially be developed for the printing of new wetland around 5924.51 ha.Natural fertility of soil in the survey low average, but there are some locations that fertility being. For those in need of additional fertilizer to improve soil fertility. For rice cultivation required the addition of fertilizer N (urea) ranged between 90-220 kg / ha, fertilizer P (SP-36) ranged from 52.8 to 130.66 kg / ha, and K fertilizer (KCl) ranged between 80 - 100 kg / ha, and the return of organic matter (rice straw) around 1-3 tonnes / ha.Purposes Urea, SP-36, and KCl per growing season about 429 tons, 248 tons, and 284. Purposes of inorganic fertilizers can be replaced by the potential of organic fertilizer (manure / cattle), in which the manure produced 777.88 tons equivalent Urea, SP-36 2149.85 tonnes and 496.81 tonnes of KCl. So that animal waste generated is expected to replace the position of inorganic fertilizers which are usually rare when needed.

Keywords: dose of fertilizer, rice, organic fertilizer, and manure.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Sep 21, 2014, 9:03 AM
Comments