Perbandingan Efektifitas Biokoagulan (Evy Hendriarianti)

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS BIOKOAGULAN BIJI ASAM JAWA
(Tamarindus Indica L) DAN BIJI KELOR (Moringa Oleifera) 
DALAM MENURUNKAN COD DAN TSS AIR LIMBAH 
INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

COMPARATION OF BIOCOAGGULANT OF TAMARIND SEEDS
(Tamarindus Indica L) AND MARUNGGAI SEEDS (Moringa Oleifera)
FOR COD AND TSS REMOVAL 
OF LEATHER TANNING WASTEWATER

Evy Hendriarianti1), Humairoh Suhastri Latifah2), dan Rossi Bellen3)
Program Studi Teknik Lingkungan, ITN Malang
Jalan Bendungan Sigura-gura, Malang 
Email: 1)hendriarianti@yahoo.com; 2)achie.latief@gmail.com; 3)rossibellen@gmail.com

diterima 30 September 2012, diterima setelah perbaikan 4 April 2013
disetujui untuk diterbitkan 4 April 2013

Abstrak: Industri penyamakan kulit mengolah kulit mentah menjadi kulit jadi. Limbah industri penyamakan kulit berpotensi besar menurunkan kualitas air karena mempunyai konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Suspended Solids (TSS) tinggi. Salah satu alternatif pengolahan limbah penyamakan kulit adalah dengan koagulasi-flokulasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas penggunaan Biji Asam Jawa dan Biji Kelor sebagai biokoagulan dalam pengaruh kecepatan putaran flokulasi dan dosis biokoagulan. Penelitian ini menggunakan reaktor koagulasi-flokulasi-sedimentasi aliran kontinyu dengan variasi dosis biokoagulan Biji Asam Jawa (1,5 g/l; 2,5 g/l dan 3,5 g/l ), biokoagulan Biji Kelor (1,0 g/l; 2,0 g/l dan 3,0 g/l ) dan kecepatan putaran flokulasi (20 rpm dan 40 rpm). Hasil penelitian menunjukkan efisiensi pemisahan COD yang dicapai sebesar 92,6% dan TSS sebesar 83,3% dengan dosis 3,5 mg/l dan kecepatan putaran 20 rpm. Biji Kelor lebih efektif sebagai biokoagulan untuk menurunkan kandungan TSS limbah cair industri penyamakan kulit. Efisiensi pemisahan yang dicapai sebesar 75,6% dengan dosis 3 mg/l dan kecepatan putaran 20 rpm. Terdapat pengaruh yang signifikan dengan semakin banyaknya dosis biokoagulan. Efisiensi pemisahan COD dan TSS juga menunjukkan hasil yang lebih baik pada kecepatan putaran flokulasi yang rendah (20 rpm).

Kata kunci: Biokoagulan, Air limbah, dan penyamakan kulit.


Abstract: Leather tanning treat raw leather to used leather. Leather tanning wastewater potentially decrease water quality because contain high concentration of Chemical Oxygen Demand (COD) and Total Suspended Solids (TSS). One of the alternative of leather tanning wastewater treatment is coagullation-flocullation. This research aims to compare effectiveness of using Tamarind seeds (Tamarindus Indica L) and Marunggai seeds (Moringa Oleifera) as biocoagullant under the influence of flocullation mixing speed and dossage of biocoagullant. This research used coagullation-flocullation-sedimentation reactor with continue flows, dossage of Tamarind seeds are 1,5 g/l; 2,5 g/l; 3,5 g/l, dossage of Marunggai seeds are 1,0 g/l; 2,0 g/l; 3,0 g/l and flocullation mixing speed are 20 rpm; 40 rpm. The result shows removal effciency of COD as 92.2% and 83.3% of TSS with 3.5 gr/l of biocoagullant dossage and 20 rpm of flocullation mixing speed. Marunggai seeds is more efffevtive as biocogullant for removal of TSS in leather tanning effluent. Efficiency removal reach as 75.6% of TSS with 3.0 gr/l of biocoagullant dossage and 20 rpm of flocullation mixing speed. There is a significant effluence with biocoagullant dossage increasing. Removal efficiency also shows better on low flocullation mixing speed (20 rpm).

Keywords: biocoagullant, Leather tanning, and wastewater.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Apr 18, 2013, 5:25 AM
Comments