Pengolahan Limbah Minyak Goreng Bekas (Mawar Silalahi)

PENGOLAHAN LIMBAH MINYAK GORENG BEKAS

MENJADI BAHAN BAKAR

 

THE TREATMENT OF WASTE VEGETABLE OIL AS FUEL

 

 

Mawar Silalahi1), Edison Efendi, dan Antonius Angga Wicaksono

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL-Universitas Trisakti

Jalan Kiai Tapa Grogol Jakarta

 

Abstrak: Biodiesel merupakan bahan bakar yang tersusun dari berbagai macam ester asam lemak yang dapat diproduksi dari minyak-minyak tumbuhan seperti minyak sawit (palm oil), minyak kelapa, minyak jarak pagar, dan minyak biji kapok randu. Bahan baku untuk pembuatan biodiesel ini berasal dari minyak goreng bekas pakai (minyak jelantah) atau WVO (waste vegetable oil) yang merupakan limbah yang dihasilkan dalam kehidupan sehari – hari. Setiap limbah yang dihasilkan termasuk limbah minyak goreng harus dikelola dengan baik, untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkan terhadap makhluk hidup dan lingkungan di sekitarnya. Dengan memanfaatkan kembali minyak goreng bekas (waste vegetable oil) menjadi bahan bakar dan ramah lingkungan, diharapkan dapat mencegah dampak negatif dari limbah minyak goreng. Proses produksi biodiesel menggunakan bahan baku yang memiliki kandungan asam lemak >5%, dapat dilakukan dengan 2 tahap, yaitu proses esterifikasi menggunakan katalis asam H2SO4 dan proses transesterifikasi menggunakan katalis basa NaOH. Proses pengolahan limbah biodiesel dimulai dengan melakukan tes pendahuluan FFA (Free Fatty Acid). Kemudian dilakukan proses esterifikasi asam dengan variasi konsentrasi H2SO4(0.5%, 1%, 1.5%, 2%), konsentrasi metanol (10%,15%,20%,25%), variasi temperatur (300, 450, 600, 650C), dan variasi waktu reaksi 60, 90, 120 menit. Proses berikutnya adalah transesterifikasi dengan variasi konsentrasi NaOH (0.5%, 1%, 1.5%, 2%), konsentrasi metanol (10%,15%,20%,25%), variasi temperatur (300, 450, 600, 650C), dan variasi waktu reaksi 60, 90, 120 menit. Produk didiamkan untuk pemisahan metil ester dan gliserol. Kemudian dilakukan pengujian kualitas berupa uji titik nyala dengan hasil esterifikasi asam yang terbaik ada pada konsentrasi metanol 10% dengan katalis basa 1% yaitu sebesar 58oC, dan pada konsentrasi metanol 20% dengan katalis asam 0.5% yaitu sebesar 54oC. Uji titik nyala untuk hasil proses Transesterifikasi metanol 10% dengan katalis basa 1% yaitu sebesar 38oC, dan pada konsentrasi metanol 15% dengan katalis basa 1% yaitu sebesar 38oC. Kemudian dilakukan penentuan pembentukan metil ester dari proses transesetrifikasi dengan konsentrasi metanol berturut-turut 10%, 15%, dan 20% dengan hasil pembentukan metil ester 96.82%, 96.39%,dan 95.91%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa minyak goreng bekas dapat diolah menjadi biofuel dengan metode esterifikasi dan tranesterifikasi.

 

Kata kunci: minyak goreng bekas, bahan bakar, biodiesel, esterifikasi asam, dan transesterifikasi.

 

Abstract: The raw material used for producing this biofuel is waste vegetable oil (WVO). Every waste that produced have to be managed for reducing the negative impact to avoid environment’s contamination. The process of reusing the waste vegetable oil as the raw material for producing biofuel can prevent the negative impact given by WVO. The first test conducted for making biofuel is by measuring the free fatty acids number (FFA). Test result shown that FFA number of this WVO was 15%. The production process of biofuel that have fatty acid > 5% divided into 2 stage, first is esterification process using acid catalyst (H2SO4) and second is transesterification process using base catalyst (NaOH). The esterification process is done under acid condition with varied H­2SO4 concentration (0.5%, 1%, 1.5%, 2%), varied methanol concentration (10%, 15%, 20%, 25%), varied temperature (300, 450, 600, 650C), and varied retention time are 60, 90, 120 minutes. The next process is transesterification with varied NaOH concentration (0.5%, 1%, 1.5%, 2%), varied methanol concentration (10%, 15%, 20%, 25%), varied temperature (30o, 45o, 60o, 65oC), and varied retention time are 60, 90, 120 minutes. The transesterification process separates the methyl esters from the glycerin. The best two quality of flash point test from the esterification process are on methanol 10% with base catalyst 1% (58oC) and on methanol 20% with acid catalyst 0,5% (54oC). The best two quality of flash point test from the transesterification are on methanol 10% with base catalyst 1% (38oC) and on methanol 15% with base catalyst 1% (38oC). The determination of forming the methyl ester by transesterification process conducted by using methanol concentration 10%, 15%, and 20% had result forming the methyl ester are 96.82%, 96.39%,dan 95.91%. Based on this research, WVO can be treated as biofuel using esterification and transesterification methods.
 

Keywords: Waste vegetable oil, biofuel, acids esterification, transesterification, and flash point.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Sep 30, 2015, 6:46 AM
Comments