Pengaruh Penambahan Surfaktan Hayati (Zulkifliani)

PENGARUH PENAMBAHAN SURFAKTAN HAYATI
TERHADAP BIOREMEDIASI TANAH TERCEMAR MINYAK

THE INFLUENCE OF ADDED BIOLOGICAL SURFACTANT
IN BIOREMEDIATION OF OIL CONTAMINATED SOIL 

Zulkifliani1), Shafira Adlina2), dan Nita Noriko3)
1,2)Laboratorium Bioteknologi, Gedung Proses
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS”
Jalan. Ciledung Raya, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta
2,3)Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Al Azhar, Indonesia
Jalan Sisingamangaraja, Jakarta 
Email: 1)zulkifliani@lemigas.esdm.go.id; 2)shafira.adlina@rocketmail.com; 3)nitanoriko@uai.ac.id

diterima 10 Juni 2012, diterima setelah perbaikan 4 April 2013
disetujui untuk diterbitkan 4 April 2013

Abstrak: Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi utama untuk transportasi, industri, dan rumah tangga. Selain manfaat yang dihasilkan, kegiatan industri perminyakan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Pencemaran minyak terus meningkat dari tahun ke tahun berbanding lurus dengan meningkatnya konsumsi minyak bumi. Pencemaran tersebut dapat berasal dari tumpahan selama kegiatan baik dari pengeboran, proses produksi dan transportasi. Salah satu penanggulangan pencemaran akibat limbah minyak bumi dapat dilakukan dengan teknologi yang ramah lingkungan yaitu melalui proses bioremediasi. Dalam penelitian ini bioremediasi dengan penambahan surfaktan hayati digunakan untuk membantu penanggulangan pencemaran minyak pada tanah. Stuktur umum molekul surfaktan dapat menyebabkan surfaktan mampu mereduksi tegangan permukaan dan antar permukaan serta membentuk mikroemulsi sehingga hidrokarbon dapat larut dalam air dan begitupun sebaliknya. Surfaktan hayati yang digunakan sesuai dengan nilai CMC (critical micelle concentration) masing masing. Nilai CMC diukur menggunakan alat potensiometer. Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) yang terkandung di dalam tanah diukur dengan metode gravimetri selama 8 minggu. Surfaktan 1 mampu menurunkan TPH sebesar 63,13%. Surfaktan 2 mampu menurunkan TPH sebesar sebesar 59,73%. Sementara tanpa penambahan surfaktan mampu menurunkan TPH sebesar 62.94%. Dengan demikian penambahan surfaktan hayati tidak menunjukkan banyak perbedaan pada penurunan TPH selama 8 minggu waktu inkubasi.

Kata kunci: bioremediasi, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), surfaktan, dan tanah tercemar minyak bumi.


Abstract: Oil and gas are the main energy source for transportation, industry, and households. Besides benefit resulting, the petroleum industry activities can cause pollution. Petroleum pollution increased every year proportional to the increase of petroleum consumption. The main source of pollution is from oil spills. Oil spills occur during exploration, production, and transportation. One approach to remove oil contamination is by using environmental friendly technology such us bioremediation. In this research, surfactant were used in the bioremediation process of oil contamination soil. In this research, the addition of biological surfactants are used to assist in bioremediation of oil contaminated soil.General structure of molecules surfactant can cause surfactants reduce surface tension and forming microemulsion. So that hydrocarbons can dissolve in water and including contrarily. Biological surfactants are used in accordance with of each CMC (Critical Micelle Concentration) values. CMC values measured using a potensiometer. Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) was measured by gravimetric method. In 8 weeks. Surfactant 1 decreased 63,13% of initial TPH value. Surfactant 2 reduced 59,73% of TPH value. Control treatment without addition of surfactant reduced 62,94% of TPH. So that, the addition of biological surfactant didn’t show any differences on TPH reduction in 8 weeks of incubation.

Keywords: bioremediation, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), surfactant, and contaminated land by petroleum.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Jun 6, 2013, 12:09 AM
Comments