Mixing Height di Atas Gunung Api (Sumaryati)

MIXING HEIGHT DI ATAS GUNUNG API DI SUMATERA
TERKAIT DENGAN PENYEBARAN SO2 VERTIKAL
Studi kasus: gunung Krakatau, Marapi, dan Sinabung tahun 2011

MIXING HEIGHT OVER VOLCANO IN SUMATERA
RELATED TO SO2 VERTICAL DISPERSION
case study: Krakatoa, Marapi, and Sinabung volcanoes in 2011

Sumaryati1), Toni Samiaji2), dan Asri Indrawati3)
Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer – LAPAN
Jalan Djunjunan, Bandung
Email: 1)sumary.bdg@gmail.com; 2)tonisamiaji@gmail.com; 3)asriku@gmail.com

Diterima Juni 2013, diterima setelah perbaikan Juli 2013
Disetujui untuk diterbitkan Februari 2014

Abstrak: SO2 merupakan gas yang reaktif, korosif, dan SO2 dari gunung api  menjadi sumber aerosol sulfat di stratosfer. Penyebaran SO2 dari kawah gunung api ke lingkungannya ditentukan oleh kekuatan letusan yang diindikasikan oleh tinggi kepulan dan kondisi meteorologi yang dalam penelitian ini ditinjau mixing height. Mixing height merupakan tinggi pada permukaan bumi dimana gas-gas mengalami percampuran dengan mudah karena adanya turbulensi yang kuat.Tinggi kepulan dianalogikan sebagai tinggi cerobong.Pada prinsipnya SO2, dapat tersebar dalam jarak yang jauh dari sumbernya jika tinggi letusan melebihi mixing height, dan sebaliknya. Dalam penelitian ini, nilai mixing height dihasilkan dari model polusi udara TAPM (the air pollution model), dan tinggi kepulan diperoleh dari pengamatan visual yang dilakukan oleh petugas teknis Pos Pengamat Gunung Api di Marapi, Sinabung, dan Krakatau. Hasil analisa data menunjukkan bahwa mixing height maksimum harian di atas gunung api di Sumatera tidak melampaui 500 m di atas permukaan tanah. Ketika aktifitas gunung api pada level normal, tinggi kepulan emisi gunung api tidak melampaui mixing height maksimum. Ketika aktifitas gunung api di atas level normal, tinggi kepulan mampu melewati mixing height maksimum. Oleh karena itu penyebaran SO2 ketika aktifitas gunung api pada level normal hanya pada permukaan sekitar gunung api. 

Kata kunci: mixing height, gunung api, penyeberan, dan SO2.


Abstract: SO2 is a reactive and corrosive gas, and SO2 from the volcano become a source of sulfate aerosols in the stratosphere. Dispersion of SO2 from volcanic crater to the environment is determined by the strength of the eruption that is indicated by plume rise of material volcano and meteorological conditions that in this study is focused on mixing height. Mixing height is the height to which the lower atmosphere where the gases mix well because of strong turbulence. Plume eruption height is analogized as stack height. Principally, SO2 dispersion will cover a long range area if the plume eruption exceeds mixing height, vice versa. In this study, mixing height values generated using the air pollution model namely TAPM (the air pollution model). The plume eruption data is observed visually by Volcano Observation Post of Marapi, Sinabung, and Krakatoa volcanoes. Results showed that daily maximum mixing height above the volcano in Sumatera did not exceed 500 m above ground.When the condition of volcano activity is in normal level, the plume of emission do not exceed the mixing height. While the volcano activity is higher the normal level, the plume eruption reach above maximum mixing height. Therefore the SO2 dispersion when volcanic activity in normal levels just at the surface around the volcano.

Keywords: mixing height, volcano, dispersion, and SO2.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Sep 28, 2015, 6:54 AM
Comments