Lingkungan Tropis Edisi Khusus 2007

DINAMIKA PARTISIPASI PESANGGEM DALAM

PELESTARIAN HUTAN

(KASUS PENGELOLAAN HUTAN BAMBU

DI DESA SUMBERAGUNG, KECAMATAN NGANTANG,

KABUPATEN MALANG)

 

 

S. Mundzir
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang
Email: s.mdzr@yahoo.co.id
 
 

Abstrak: Kerusakan hutan terjadi hampir menyeluruh di Indonesia yang disebabkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  Kerusakan hutan tersebut mengakibatkan bencana banjir hampir di seluruh Indonesia dan menimbulkan kerugian besar bagi sebagian masyarakat. Upaya penghutanan kembali (reboisasi) dilakukan oleh Perum Perhutani dengan melibatkan warga masyarakat sekitar hutan. Masyarakat desa Sumberagung, kabupaten Malang melestarikan hutan merupakan realitas dari kerja sama antara Perum Perhutani dan Pemerintah Kabupaten Malang yang diwujudkan dalam Peraturan Bupati Malang nomor 53 Tahun 2005 tentang Lembaga Kemitraan Pengelola Desa Hutan (LKPDH). LKPDH Wono Mulyo merupakan salah satu dari LKPDH di kabupaten Malang yang dipercaya mengelola hutan bambu dengan imbalan setiap petani hutan (pesanggem) mendapat lahan garapan (lodenan)  di dalam hutan sekitar 2,5 ha. Lodenan tersebut ditanami  dengan tanaman tumpang sari di sela-sela tanaman keras. Permasalahan timbul setelah pesanggem semakin banyak dan lahan garapaan semakin terbatas, sehingga terdapat beberapa pesanggem mengolah lahan di kawasan hutan lindung. Di samping itu juga muncul permasalahan terkait dengan pengelolaan hutan bamboo yang dianggap kurang transparan. Penelitian ini menggunakan metode eklektif (gabungan) dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian di desa Sumberagung, kecamatan Ngantang kabupaten Malang. Populasi penelitian adalah anggota kelompok sebanyak 403 orang yang tergabung dalam kelompok petani pesanggem. Sedangkan sample penelitian diambil 201 orang yang menyebar pada setiap kelompok kerja (Pokja) di wilayah RT  masing-masing. Penelitian menemukan bahwa pesanggem yang tergabung dalam LKPDH Wono Mulyo pada umumnya menggantungkan hidupnya dari sumberdaya hutan. Keteraturan sosial yang dibangun melalui kelompok sosial tidak semuanya dapat dipatuhi oleh anggota kelompok, sehingga terjadi penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial terjadi dalam bentuk perluasan lahan (pembibrikan)  di kawasan hutan lindung untuk lodenan (lahan andil) dengan tanaman kopi. Di samping itu penelitian ini juga menemukan adanya hubungan secara signifikan antara faktor kependudukan, sosial ekonomi, kelembagaan dan tingkat partisipasi pesanggem dalam pelestarian hutan bambu, kecuali taraf pendidikan pesanggem. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar semua unsur kelembagaan yang ada di desa Sumberagung dapat bekerja sama dalam proses pengelolaan hutan.

Kata kunci: bambu, ngantang, partisipasi, dan pesanggem.

 

 

 

 

Comments