Lingkungan Tropis Edisi Khusus 2007

ALIRAN MATERI KE DAN DARI DKI JAKARTA

 

FLOW OF MATERIALS IN THE JAKARTA METROPOLITAN

 

 

Otto S.R. Ongkosongo
Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Jl. Pasir Putih 1, Ancol Timur, Jakarta Utara; Ikatan Analis Dampak Lingkungan Indonesia (IADLI)
Pusat Studi Lingkungan dan Bencana (PSLB), Universitas Tujuhbelas Agustus Jakarta
Sub Committee Environment and Sustainable Development, United Nations University (UNU)
Email: ottoongkosongo@yahoo.co.id; lesserang@yahoo.com

 

Abstrak: Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, dalam hal ini kota metropolitan Jakarta, adalah tempat terbaik untuk percontohan kajian tentang aliran materi ke dan dari daerah tersebut. Kota ini merupakan tujuan urbanisasi yang paling menonjol di Indonesia dan sejak sekitar 60 tahun lalu jumlah penduduk telah meningkat sepuluh kalinya. Kota ini mengimpor bahan-bahan bangunan dalam bentuk materi alami berupa bongkah-bongkah batuan, batu-batu, sedimen lepas, serta kayu-kayu, maupun materi buatan seperti besi beton, logam lain (aluminium dan sebagainya), kaca, plastik dan aneka macam bahan dan produk untuk bangunan yang lain. Banyak tanah didatangkan ke Jakarta terutama untuk pengurugan lahan-lahannya yang rendah. Untuk hidup dan kehidupan masyarakat Jakarta sangat menggantungkan masukan air dari hulu dan daerah lain termasuk yang disalurkan memalui saluran Tarum Barat. Air juga diambil dari dalam tanah. Demikian pula dengan aneka bahan pangan mentah dan bahan jadi, termasuk obat-obatan serta bahan dasar dan bahan siap digunakan dan siap pakai. Untuk kebutuhan energi dan kegiatan industri secara umum selain dimasukkan bahan-bahan cair juga bahan-bahan gas dan zat-zat padat lainnya. Untuk transporasi berbagai bentuk kendaraan darat, udara, dan laut, baik dalam bentuk jadi, setengah jadi, atau lepas-lepas dimasukkan atau dikeluarkan dari daerah ini. Setelah dimanfaatkan atau mengalami aneka proses, atau setelah berubah bentuk dan sifat, sebagian materi kemudian meresap atau mengendap ke tanah, menguap ke udara, atau mengalir ke laut. Selain itu, materi yang telah berubah menjadi aneka produk jadi dikirim dari Jakarta ke daerah lain, atau bahkan banyak yang diekspor ke luar negeri. Sampah kota dibuang ke daerah sekitarnya. Pemasukan (impor) materi dapat dikatakan (relatif) berlangsung terus-menerus terutama berasal dari luar daerah dan bahkan ada yang dari luar negeri, dan demikian pula ke arah sebaliknya untuk pengeluaran (ekspor) materi. Dari kajian secara kualitatif terhadap neraca materi ini, dapat disimpulkan bahwa selain jumlah penduduk (materi berbentuk manusia) bertambah cepat, Jakarta mengalami surplus memperoleh materi dari luar wilayahnya. Indikatornya yang paling nampak adalah dari perubahan fisik ini adalah dalam bentuk perubahan fisik kota yang berupa gedung-gedung, jembatan, dan jalan, dan juga lapisan tanahnya yang eksogen. Jalur-jalur dan enklaf (enclave) tertentu sudah merupakan hutan beton (concrete jungle). Semuanya ini menghasilkan kenaikan elevasi absolut dan relatif (setelah dikurangi laju penurunan muka tanah). Disarankan untuk dilakukan kajian lanjutan yang lebih rinci berikut dampaknya terutama dampak besar dan penting negatifnya lebih lanjut oleh semua fihak, khususnya dari para mahasiswa dan peneliti ilmu dan teknologi lingkungan.

Kata kunci: Materi, neraca, kota, dan Jakarta.

 

Abstract: Jakarta metropolitan of the Special Province of Jakarta is an ample example for the study on flow of materials. The city has being the most important urbanization destination in Indonesia that since around 60 years ago the number of its population has increased ten times. Many building materials either in natural forms such as rock, stone, loose sediments, and woods as well as man-made things like iron bars, other metallic materials (alumina and others), glasses, plastics, and any kind of raw materials and products for other building uses have being imported to Jakarta. Enormous amounts of have been sent to reclaim mainly the lowland of Jakarta. To support daily life and well being of its inhabitants, Jakarta is very dependent to water supply from upstream and other areas including those that drainages through West Tarum channel. Jakarta also exploits its ground water. Any kinds of raw and edible foods including medicines as well as raw and ready-for-use and ready-to-wear materials are also imported. Huge amounts of liquid, gas, and solid materials are also in-flowed for energy consumption and general industrial activities. Various types of land, air, and water vehicles transportation in the forms of end, half made, or partials go in and out this city. After being used or processed, or after being changed into other forms, some of these materials are then intruded or deposited on land surface, evaporated on air, and flowed to the sea. Besides, some portions of materials that have been changed into various products are sent from Jakarta to other areas, or some of which are even exported to overseas. City wastes and garbage are sent to the surrounding areas. Frankly and relatively speaking many materials are continuously imported from other areas and even from abroad, and in reverse others are sent to other areas or exported to other countries. From this qualitative study, it can be concluded that in addition to the fast growing population, the material balance in Jakarta is surplus i.e. in receiving materials from outside of the city. The clear indicator is in its physical form of the city by means of skyscraper buildings, bridges, roads, and also the exogenous materials that cover the land surface. Certain stretches and enclaves have been changed into concrete jungle. All of these have risen absolute and relative (after deduced from the subsiding rate) elevation level. It is suggested to have further studies on this matter particularly its significant and important negative impacts by all communities, especially to students and researchers on environmental science and technology.

Keywords: Material, balance, city, and Jakarta.

 

 

 

Comments