Kondisi dan Pola Penggunaan WC-Umum (J. Tri Astuti)

KONDISI DAN POLA PENGGUNAAN WC-UMUM:

STUDI KASUS DI KOTA BANDUNG

  

THE CONDITION AND THE UTILIZATION PATTERN

OF PUBLIC TOILET: A CASE STUDY IN BANDUNG CITY

 

 

J. Tri Astuti 1) dan Neni Sintawardani2)
Kelompok Teknik Perlindungan Lingkungan, Pusat Penelitian Fisika-LIPI
Jl. Sangkuriang, Bandung 40135
Email: 1)fibrousa@yahoo.com; jtri001@lipi.go.id; 2)neni.sintawardani@lipi.go.id

 

Abstrak: Sanitasi menunjukkan tingkat kebersihan dalam menangani limbah WC yaitu feces dan urin yang diproduksi semua orang setiap hari. Hal ini tercermin dari kondisi dan pengelolaan fasilitas WC (Water Closet) yang digunakan. Setiap keluarga biasanya memiliki WC sendiri. Namun, sebagian masyarakat tidak memiliki W keluarga karena penghasilan dan lahan yang terbatas sehingga diperlukan WC Umum. WC sebaiknya tidak mengotori perairan. Tetapi kenyataan di masyarakat menunjukkan adanya kebiasaan membuang limbah WC langsung ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menyebabkan pencemaran. Pada dekade terakhir telah dikembangkan Bio-toilet atau WC kering. Studi tentang kondisi dan pola penggunaan WC Umum perlu dilakukan untuk melihat prospek Bio-toilet di masa datang. Data menunjukkan 98% WC Umum menggunakan closet jenis jongkok, tingkat penggunaan cukup tinggi, yaitu 100-500 orang/hari. Bangunan WC Umum di stasiun, terminal, mall, dan taman rekreasi cukup baik, bersih, cukup air, dan ada petugas kebersihan. WC Umum  tersebut dikelola secara komersial yang setiap pemakaian dikenakan biaya.  Sebaliknya WC Umum di Kiaracondong tampak kotor, tanpa fasilitas air dan tanpa petugas kebersihan, tetapi tidak dipungut biaya. Pola penggunaan WC Umum di pasar tradisional beragam,  yaitu untuk mandi, Buang Air Kecil (BAK), dan Buang Air Besar (BAB).  WC Umum di Kiaracondong terutama untuk BAB, sedangkan di stasiun, terminal,  pertokoan, dan taman rekreasi kebanyakan untuk BAK. Limbah WC Umum di Kiaracondong dibuang langsung ke DAS Citarum, sedangkan WC Umum komersial dialirkan ke bak penampung sementara untuk kemudian disedot secara periodik. Rata-rata kebutuhan air masyarakat 90 liter/orang/hari, 40% untuk menyiram feces-urin. Air yang digunakan berasal dari PDAM. Aplikasi Bio-toilet diharapkan dapat menghemat air minum, memperbaiki air dan sanitasi, dan menghasilkan kompos yang bermanfaat untuk pertanian.

Kata kunci: bio-toilet, degradasi, feces-urin, kompos, dan WC Umum.

 

Abstract: Sanitation indicated the cleanness of toilet waste handling, e.i. faces and urine that produced by all people daily. It could be presented by condition and management of toilet facilities. Commonly,  the households have toilet for their family. But, some families have no toilet because of the limited of income and space. Therefore,  public toilet become important.  Toilet should  not polluted to water. In fact, the discharge of toilet waste directly to water caused the decreasing of water quality. At the last decade Bio-toilet or dry toilet has been developed.  The study about condition and utilization of public toilet is required to estimate the prospect of Bio-toilet in the future. Data showed, 98% of public toilet used squat type closet. Frequency of using is high, i.e.  100-500 person/day. The building of public toilet at the station, bus terminal, mall, and park are moderate clean with water and keeper facilities. This public toilet was operated commercially that charged for usage. Public toilet in Kiaracondong commonly dirty, with no water and keeper fasilities, without charge. Public toilet usage in traditional market is varying for bath, defecate, and urinate. Public toilet in Kiaracondong mainly used for defecate, meanwhile Public toilet at the station, terminal, mall, and city park mostly used for urinate.The waste of Public toilet in Kiaracondong was discharged to Citarum catchment area. Waste of the commercial public toilet was discharged to septic tank and be suctioned periodically. The average daily water usage is 90 liter/person/day, 40% of it was used for flushing feces and urine. Water was obtained from water supply municipal. It was expected, the application of bio-toilet will save drinking water, improve water and sanitation, and resulted compost  that valuable for agriculture. 

Keywords:  bio-toilet,  compost, degradation, feces-urine, and public-toilet.  

 

Comments