Komposisi Plankton di Perairan (Diah Prabandani)

KOMPOSISI PLANKTON DI PERAIRAN WADUK SAGULING,

JAWA BARAT

 

PLANKTON COMPOSITION OF SAGULING RESERVOIR,

WEST JAVA

 

 

Diah Prabandani1), Barti Setiani M.2), dan Arwin Sabar

Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Jl.  Ganesha No. 10, Bandung, 40132

Email: 1)di_prabandani@yahoo.com; 2)barti_setiani@yahoo.com

 

 

Abstrak: Waduk merupakan bendungan air yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia, seperti PLTA, suplai air dan perikanan yaitu budidaya keramba jaring apung (KJA).  Kualitas air waduk Saguling sangat berkaitan dengan kondisi  kualitas air DAS Citarum (allochtonous) sebagai akibat perubahan fungsi lahan di sepanjang DAS. Selain itu faktor autochtonous juga berperan, yaitu kegiatan KJA. Fitoplankton merupakan salah satu aspek biologi yang dapat digunakan untuk indikator kualitas perairan. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian tentang komposisi fitoplankton (kelimpahan), serta parameter fisika-kimia perairan dalam mengevaluasi kualitas perairan, khususnya pada waktu ketersediaan air waduk minimum. Penelitian dilakukan pada 4 stasiun-lapisan eufotik (0.5; 1.5 dan 2.5 meter) di perairan waduk Saguling, Bandung.  Pengambilan sampel air dilakukan pada bulan November-Desember 2005 dengan 4 periode waktu sampling dan ketersediaan/stok air waduk rendah (St: 89.38-134.06 x 106 m3) dan tinggi muka air (TMA) minimum. Kualitas air akan mempengaruhi kelimpahan fitoplankton dengan tingginya kandungan bahan organik.  Hasil analisis biologi pada lapisan eufotik ditemukan 55 genus dari 5 kelas kelimpahan fitoplankton. Kelima kelas fitoplankton tersebut adalah terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae dan Euglenophyceae. Dominasi tertinggi dari kelas Cyanophyceae (dengan nilai indeks diversitas(H’): 0.902-1.877 dan indeks dominansi (C):0.306-0.600. Kelimpahan fitoplankton didukung oleh  jenis Microcystis, Spirulina, Oscillatoria, Phormidium, Scenedesmus dan Peridinium. Jenis fitoplankton tersebut diatas dapat digunakan sebagai indikator eutrofikasi perairan waduk.

 

Kata kunci: eufotik,  fitoplankton, kualitas air, Saguling, dan stok air.

 

 

Abstract: Reservoirs, man-made inland water bodies has function for a variety of human benefits, such as hydroelectric power, water supply, and aquaculture which also known as cage fish farming system. The water quality of Saguling reservoir is very influenced by water quality of Citarum watershed (allochtonous factor), as result of land use degradation.  Besides that, autochthonous factor is activities cage fish farming system in reservoir. Phytoplankton usually used as a biological indicator for water quality. Based on these, the research of phytoplankton (abundance), and physic-chemical conditions was important to evaluate the conditions of Saguling reservoir, especially at minimum water stock.  This research was done at 4 locations-euphotic layers (0.5; 1.5 and 2.5 meters) along Saguling reservoir, Bandung. This water sampling was done in November-December 2005 with four times sampling, minimum condition of stock reservoir (St: 89.38 - 134.06 x 106 m3), and minimum water level.  The water quality will influences abundance of phytoplankton with high of organic material.  The result of biological analysis at the euphotic-water layer that found 55 genuses from five classes of phytoplankton. This classes of phytoplankton content Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae and Euglenophyceae. Dominance of class Cyanophyceae (diversity index (H’):0.902-1.877 and dominance index (C):0.306-0.600).  In general the genus of phytoplankton that dominated by Microsystis, Spirulina, Oscillatoria, Phormidium, Scenedesmus and Peridinium. These genuses can be used as bio-indicator for eutrophication reservoir.

 

Keywords: euphotic, phytoplankton, water quality, Saguling, and water stock.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Apr 9, 2012, 5:54 AM
Comments