Kajian Lingkungan Perubahan Garis Pantai (Sudaryati Cahyaningsih)

KAJIAN LINGKUNGAN PERUBAHAN GARIS PANTAI
SEKITAR LOKASI PLTU SULAWESI UTARA

ENVIRONMENTAL STUDY OF COASTLINE CHANGES
AROUND STEAM POWERPLANT AT NORTH SULAWESI

Sudaryati Cahyaningsih1), Diana Rahayuningwulan2), dan Endang Sri Pujilestari3)
1, 2) Bidang Teknologi Lingkungan, Pusat Penelitian Kimia – LIPI
Jalan Cisitu, Bandung
3) Program Doktoral Pascasarjana, Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia
Jalan Salemba Raya, Jakarta
Email: 1)scunong@yahoo.com; 2)d_wulan@yahoo.com


Abstrak: Wilayah di sekitar PLTU Sulawesi Utara semula merupakan hutan mangrove yang memanjang dari Teluk Amurang, namun sebagian besar dibuka untuk kegiatan industri dan pemukiman sehingga hutan mangrove padat yang tersisa hanya di sekitar Tanjung Kapitu. Pantai Amurang merupakan bagian dari Laut Sulawesi yang seringkali mengalami angin cukup kencang melebihi 10 m/detik.  Setelah hutan mangrove yang lebat dibuka akan terlihat pasir pantai yang gembur, ringan, dan mudah diterbangkan angin. Pasir tersebut membentuk gunungan di pinggir pantai (gumuk) dimana gerakan arus pasang surut membentuk gumuk tersebut semakin curam dan terlihat ‘kokoh’. Gumuk tersebut menjadi sasaran gerusan ketika terjadi gelombang tinggi. Di Pantai Amurang sering terjadi gelombang ekstrim setiap tahun antara 2,5m hingga 8 m, sehingga gumuk tersebut mudah tergerus oleh gelombang, yang disebut abrasi. Untuk mengetahui pengaruh penambahan bangunan yang menjorok ke tengah laut (groin) terhadap lingkungan sekitar PLTU Sulawesi Utara dilakukan simulasi. Berdasarkan hasil pemodelan dengan pembangkit pasang surut, angin,dan gelombang, perubahan signifikan amplitudo pasang surut semakin ekstrim dari tahun 2007 hingga 2011 (pada saat surut garis pantai melebar terutama jika ada angin). Hal ini mengakibatkan banyak gumuk tak sempurna di sepanjang pantai. Groin meningkatkan kecepatan arus pada saat surut di sekitar pantai, menurunkan level muka air pada saat surut, dan membelokkan area gelombang pecah sehingga terjadi gerusan bibir pantai. 

Kata kunci: garis pantai, groin, dan hidrodinamika pantai.


Abstract: Area surrounding Steam Power Plant (PLTU) North Sulawesi was mangrove forest, laid from Amurang Bay,but more than half had land cleared for industrial and residential activities, so that remains small mangrove forest around Kapitu Cape. At Amurang Coast as a part of Sulawesi Sea often had wind speed more than 10 m/s.  After land clearing of mangrove forest, light-loose coastal sand would appeared. Those sand would formed small sand hill along the coastal, what we called sand-dune (gumuk), where tidal movement made the sand-dune more sheer and looked “strong”. Sand dune became a target of erosion when high wave came. At Amurang Coast also occurs extreme wave annually, between 2,5m until 8 m, so that sand dune easily erodes by the wave, what we called abrasion. This simulation was brought to determine any influence of construction coastal building straight to the sea (groin) to surrounding of PLTU North Sulawesi. According to simulation result with tidal, wind, and wave generator, significant changes of tidal amplitudes became extreme from 2007 until 2011 (when low tide and especially wind came, the coastline became wider). This situation caused many un-complete sand dunes along the coastal. Groin would increased sea current speed when low tide came, decreased mean sea level when low tide and turning the wave break so that erodes the coastal.

Keywords: shoreline, groin, and shore hydrodynamic.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Sep 27, 2014, 6:48 PM
Comments