Evaluasi Timbulan Lumpur (Sandyanto Adityosulindro)

EVALUASI TIMBULAN LUMPUR DAN PERANCANGAN SISTEM PENGOLAHAN LUMPUR (STUDI KASUS: INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM CIBINONG, JAWA BARAT)

EVALUATION OF SLUDGE GENERATION AND DESIGN
OF SLUDGE TREATMENT SYSTEM (CASE STUDY: CIBINONG DRINKING WATER TREATMENT PLANT, WEST JAVA)


Sandyanto Adityosulindro 1), Djoko Mulyo Hartono2), dan Anindyolaras Cahyo Pramusinto 3)
1,2,3)Program Studi Teknik Lingkungan, Departemen Teknik Sipil
Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat
Email: 1) adityosulindro@ui.ac.id; 2) djokomh@eng.ui.ac.id; 3) anindyolaras@hotmail.com

Diterima Agustus 2014, diterima setelah perbaikan September 2013
Disetujui untuk diterbitkan Oktober 2013

Abstrak: Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) dalam prosesnya akan menghasilkan limbah yang berupa lumpur. Berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum pasal 9 ayat 3 bahwa limbah akhir dari proses pengolahan air baku menjadi air minum wajib diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sumber air baku dan daerah terbuka. IPAM Cibinong merupakan instalasi yang belum melakukan pengolahan limbah berupa residu lumpur dari proses pengolahan air dimana langsung dibuang ke sungai Ciliwung. Berdasarkan hasil perhitungan, timbulan debit lumpur aliran kontinyu IPAM Cibinong I sebesar 394,35 m3/hari dan IPAM Cibinong II sebesar 187,44 m3/hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung timbulan lumpur dan mendesain sistem pengolahan lumpur. Berdasarkan analisis neraca massa instalasi eksisting dapat diketahui bahwa unit penghasil lumpur yang signifikan adalah unit sedimentasi.  Untuk instalasi ini, diusulkan unit pengolahan lumpur yang terdiri dari proses thickening dengan gravity thickening, chemical conditioning dengan penambahan polimer, dan dewatering dengan centrifuge. Pemilihan unit tahap dewatering berdasarkan analisis SWOT dan metode decision matrix, kemudian diperoleh mechanical dewatering menggunakan centrifuge. Berdasarkan luas lahan, timbulan cake lumpur, dan kebutuhan polimer dipilih instalasi pengolahan lumpur yang terdiri dari 2 buah bak ekualisasi. Bak ekualisasi pertama mengumpulkan lumpur dari unit flokulasi dan air pencucian filter untuk diproses selanjutnya ke chemical conditioner, recovery basin¸ dan gravity thickener. Sedangkan bak ekualisasi kedua mengumpulkan lumpur dari unit sedimentasi menuju gravity thickener kemudian menuju centrifuge.  

Kata kunci : Timbulan Lumpur, Neraca Massa, Pengolahan Lumpur, dan Instalasi Pengolahan Air Minum.


Abstract : Water treatment plant produced sludge in a large quantity. Based on Government Regulation No. 16, 2005 in which under item 3 of the article 9, waste produced from processing unit must be treated before discharged into water sources and open areas. The sludge generated from DWTP Cibinong was directly discharged into stream Ciliwung. Based on the calculation, sludge generation of DWTP Cibinong I and II in continuous flow were 394,35 m3/day and 187,44 m3/day. The aim of this study was to calculate sludge generation and to design sludge treatment system. Based on mass balanced analysis, sedimentation was unit which significantly produced sludge in large quantity. Sludge treatment plant will be suggested consists of thickening, chemical conditioning, and dewatering. Based on SWOT analysis and decision matrix method for selecting dewatering unit, centrifuge will be used as mechanical dewatering process. Based on land area, sludge generation, and polymer needs, the sludge treatment plant will be consisted of 2 equalization basins. The first equalization basin collected sludge from flocculation unit and backwash water and processed into chemical conditioner, recovery basin, and will be mixed in gravity thickener with outflow from the second equalization basin which collected sludge from sedimentation then processed into centrifuge unit.

Keywords: Sludge Generation, Mass Balanced, Sludge Treatment, and Water Treatment Plant.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Sep 13, 2015, 9:18 AM
Comments