Evaluasi Aliran Material (Nadia Faramita)

EVALUASI ALIRAN MATERIAL SAMPAH DAUR ULANG

(PLASTIK, KERTAS, LOGAM) KOTA BANDUNG

 

EVALUATION OF RECYCLED SOLID WASTE’S MATERIAL

FLOW (PLASTICS, PAPERS, METALS) IN BANDUNG

 

 

Nadia Faramita1) dan Benno Rahardyan2)
Program Studi Teknik Lingkungan ITB
Jl. Ganesa 10 Bandung
Email: 1)nadfara@yahoo.com; 2)benno@tl.itb.ac.id

  

Abstrak: Bandung merupakan kota dengan sistem pembangunan terpusat. Kondisi ini menarik masyarakat di sekitarnya untuk pindah ke Bandung, dan menyebabkan tingkat populasi penduduk di Kota Bandung semakin meningkat. Berdasarkan data dari PD. Kebersihan,  jumlah populasi penduduk di Kota Bandung mencapai 2.5 juta penduduk pada tahun 2005. Namun sayangnya, jumlah penduduk yang tinggi ini menyebabkan tingginya jumlah sampah domestik, yaitu sekitar 7500m3 untuk tahun yang sama. Sementara itu, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah terbatas. Untuk mengatasinya, salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah pengoptimalan upaya daur ulang pada sampah-sampah anorganik (khususnya plastik, kertas, dan logam). Melalui upaya daur ulang yang tepat, beban  timbulan sampah di TPA akibat sampah anorganik tersebut diharapkan dapat dikurangi ataupun dihilangkan. Dengan menyusun suatu aliran material dari sampah-sampah daur ulang, akan dapat diamati nilai timbulan sampah di setiap pelaku-pelaku daur ulang pada kondisi eksisting dan perubahan nilai-nilai tersebut bila dikembangkan beberapa alternatif skenario terhadap lokasi pembangunan infrastruktur daur ulang. Kemudian, dengan mengkonversikan nilai-nilai timbulan tersebut kedalam nilai-nilai jarak tempuh pelaku, biaya transportasi, maupun nilai emisi CO2 yang dihasilkan dari transportasi perdagangan, dapat dipilih alternatif skenario yang paling baik untuk diterapkan. Sebagai hasilnya, dipilih Cikudapateuh sebagai lokasi pembangunan infrastruktur untuk  wilayah Bandung Tengah dan Cisaranten Wetan untuk wilayah Bandung Timur.

 Kata kunci: daur ulang sampah, aliran material, skenario, dan infrastruktur.

 

 Abstract: Bandung is a city with centralized development. This condition attracts people from the surrounding areas to move to Bandung, and causes Bandung’s population rate to increase continuously. Based from PD. Kebersihan, Bandung’s population is measured at 2.5 million in 2005. Unfortunately, this high number causes high generation of solid wastes, which is measured at 7500m3 in the same year. Meanwhile the capacity of final disposal plant could not cope with the solid wastes generation. To undermine this conditon, one of the strategy that could be practiced is to optimize recycling of inorganic wastes (especially plastics, papers, and metals). With a proper recycling, eventually the waste generation in final disposal plant could be reduced or eliminated. By arranging an inorganic waste’s material flow, the waste generation in each recycling stakeholders within the existing condition could be observed and also their changes when every alternative of recycling infrastructure location’s scenario is being developed. Converting those generation numbers to stakeholder’s transportation distance, transportation cost, and CO2 emission of vehicular transportation, shall produce the best scenario for each area. From this stimulation, Cikudapateuh is selected for infrastructure location in Bandung Tengah, while Cisaranten Wetan for Bandung Timur.

 Keywords: solid waste’s recycle, material flow, scenario, and infrastructure.

 

Ċ
Lingkungan Tropis,
Apr 9, 2012, 6:05 AM
Comments