Efek Tembaga Terhadap Pertumbuhan Mikroalga (Rachma Puspitasari)

EFEK TEMBAGA TERHADAP PERTUMBUHAN 
MIKROALGA LAUT, Isochrysis sp 

COPPER EFFECT TO GROWTH OF AQUATIC 
MICROALGAE, Isochrysis sp 



Rachma Puspitasari dan Triyoni Purbonegoro
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI
Jalan Pasir Putih, Ancol Timur, Jakarta Utara
Email: poespitsari@yahoo.com

dikirim 8 Agustus 2011, diterima setelah perbaikan 16 Januari 2013
disetujui untuk diterbitkan 20 Januari 2013

Abstrak: Logam-logam berat memasuki ekosistem akuatik melalui berbagai sumber seperti buangan industri dan rumah tangga, buangan aktivitas pertanian, pelepasan dari sedimen terkontaminasi atau deposisi dari atmosfer. Polutan berupa logam berat ini dapat mengganggu kehidupan organisme akuatik. Salah satu organisme akuatik yang dapat terkena dampak adalah kelompok produsen primer yaitu mikroalga. Logam berat yang banyak terdeteksi di perairan diantaranya adalah tembaga dan kadmium. Tembaga merupakan mikronutrien yang memegang peranan penting dalam proses fotosintetik karena merupakan komponen penyusun enzim dan rantai transpor elektron. Namun dalam dosis tertentu, tembaga dapat bersifat racun bagi organisme. Kadmium banyak dipakai stabilizer ((penyeimbang) dan pewarna plastik serta elektroplating (penyepuh/pelapisan logam). Selain itu dipakai pula dalam penyolderan dan pencampuran logam serta industri. Isochrysis sp adalah jenis mikroalga dominan di ekosistem akuatik. Dalam penelitian ini, kami membandingkan efek logam berat tembaga dan kadmium terhadap pertumbuhan mikroalga laut, melalui pengujian toksisitas di laboratorium. Metode pengujian toksisitas yang digunakan bersumber dari American Society for Testing Material. Isochrysis sp. Nilai IC50-96 jam kadmium sebagai toksikan acuan diperoleh 1,29 mg/L Cd sedangkan nilai IC50-96 jam tembaga terhadap pertumbuhan Isochrysis sp diperoleh 0,037 mg/L Cu. Baik tembaga maupun kadmium menghambat pertumbuhan dari Isochrysis sp. Dari nilai IC50-96 jam kedua logam tersebut dapat disimpulkan bahwa tembaga lebih bersifat toksik terhadap Isochrysis sp dibandingkan kadmium. Toksisitas tembaga sekitar 34 kali lebih besar daripada kadmium. Tembaga tidak memberikan efek yang signifikan (NOEC) terhadap pertumbuhan Isochrysis sp pada konsentrasi 0.018 mgL-1 Cu. Konsentrasi tembaga terendah yang memberikan efek signifikan (LOEC) terhadap pada pertumbuhan Isochrysis sp pada konsentrasi 0.032 mgL-1. 

Kata kunci: Isochrysis sp, kadmium, tembaga, dan toksisitas.


Abstract: Heavy metals enter aquatic ecosystem from different sources including domestic and industrial wastewaters, agricultural runoff, and release from contaminated sediments or atmospheric deposition. Heavy metal pollutant can affect aquatic organism’s life. One of aquatic organisms which can be suffered is primary producer, microalgae. Heavy metal which highly detected in waters is copper. Copper is micronutrient which important in photosynthetic process because copper is an essential as a component of enzyme and electron transport chain. Bui it certain dosage, copper can be toxic for organism. Isochrysis sp is a dominant microalgae in aquatic ecosystem. In this research, we compared copper effect than cadmium into growth of marine microalgae, Isochrysis sp. IC50-96 h of cadmium as reference toxicant was 1.287 mgL-1 Cd whereas IC50-96h of copper to growth of Isochrysis sp was 0.0372 mgL-1 Cu, respectively. Both cadmium and copper were inhibited growth of Isochrysis sp. From IC50-96 h value, it could be concluced that copper was more toxic to Isochrysis sp than cadmium. The toxicity of copper to Isochrysis sp was 34 times stronger than cadmium. It is estimated that at concentration of 0.018 mgL-1 copper does not show observable effect (NOEC) to Isochrysis sp. Mean while the lowest observable effect of copper (LOEC) to Isochrysis sp was at concentration of 0.032 mg L-1.

Keywords: cadmium, cooper, Isochrysis sp, and toxicity.
Ċ
Lingkungan Tropis,
Apr 18, 2013, 1:41 AM
Comments