Bioremediasi Heptaklor (E. S. Harsanti)

BIOREMEDIASI HEPTAKLOR DENGAN PSEUDOMONAS MALLEI DAN TRICHODERMA SP YANG 
DIKOMBINASIKAN DENGAN KOMPOS PADA PERTANAMAN CAYSIM BRASSICA JUNCEA., L

BIOREMEDIATION OF HEPTACHLOR BY PSEUDOMONAS MALLEI AND TRICHODERMA, SP COMBINED WITH 
COMPOST ON CAYSIM BRASSICA JUNCEA., L CROPPING

E. S. Harsanti1), A. Hidayah, Poniman, dan A. N Ardiwinata
Balai Penelitian Lingkungan Pertanian
Email: 1)eharsanti@yahoo.com

Diterima Agustus 2014, diterima setelah perbaikan Februari 2015
Disetujui untuk diterbitkan Februari 2015

Abstrak: Penggunaan insektisida organoklorin telah dilarang di Indonesia sejak tahun 1990, kecuali heptaklor baru tahun 2007. Heptaklor (C10H5Cl7) adalah insektisida organoklorin anggota senyawa Persistent Organic Pollutants (POPs) yang bersifat toksik kronis, persisten, bioakumulasi dan pemicu kanker.Meskipun heptaklor telah dilarang penggunaannya, namun residunya masih tetap ditemukan di dalam tanah pertanaman sehingga menimbulkan permasalahan lingkungan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menurunkan residu heptaklor dengan mikroba Pseudomonas mallei dan Trichoderma sp dalam tanah Andisol dan pengaruhnya terhadap hasil caysim.Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kasa di Balingtan, Percobaan rumah kasa disusun menggunakan rancangan faktorial acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan.Faktor pertama adalah jenis kompos (tanpa kompos, kompos kotoran ayam, kotoran sapi dan kompos di pasaran) dan faktor kedua adalah mikroba (tanpa mikroba dan dengan mikroba Pseudomonas mallei-Trichoderma sp). Hasil uji hayati di laboratorium menunjukkan penggunaan bakteri dan jamur dapat menurunkan heptaklor hingga 96,4%. Hasil uji skala rumah kasa menunjukkan bahwa penggunaan mikroba (Pseudomonas mallei dan Trichoderma sp) yang dikombinasikan dengan kompos dapat menurunkan residu heptaklor dalam tanah hingga 91,57% (p ≤0,105) atau 16,73% dibandingkan kontrol dan residu tanaman caysim hingga di bawah BMR=0,05 ppm (p ≤0,0139). Bioremediasi menggunakan Pseudomonas mallei dan Trichoderma, sp dikombinasikan dengan kompos kotoran ayam dapat menurunkan residu heptaklor pada caysim dan hasil caysim lebih tinggi daripada kontrol yaitu 179 g/pot atau naik sebesar 13%.

Kata kunci: Bioremediasi, heptaklor, Pseudomonas mallei, Trichoderma sp, dan Caysim.


Abstract: The use of Organochlorine have been prohibited in Indonesia since 1990, except heptachlor since 2007. Heptachlor (C10H5Cl7) is organochlorine insecticide that included in compound of Persistent Organic Pollutants (POPs). POPs compounds are cronical toxic, persistent, bioaccumulation, and carcinogen. Although heptachlorhas been banned, butthe residue isstill foundinsoilcultivation so the residue of heptachlor becomes environmental problem. The objective of research was to reduce heptachlor residue using Pseudomonas mallei and Trichoderma sp in Andisols and its effect on mustard yield. The research was conducted in laboratory and screen house at Indonesia Agricultural Environment Research Institute. The screen house experiment was arranged using randomized block design with two factors and replicated three times. The first factor was compost type (without compost, compost of chicken manure, compost of cow manure, commercial compost), the second factor was microbial inoculation (without microbial inoculation, inoculation of Pseudomonas mallei-and Trichoderma sp). Biological test in laboratory showed that microbial inoculation reduced heptachlor till 96.4%. Result from screen house test showed that microbial inoculation (Pseudomonas mallei and Trichoderma sp) combined with compost could reduce significantly heptachlor residue in soil until 91,57% or 16,73% (p ≤0,105). Bioremediation using Pseudomonas mallei and Trichoderma sp combined with chicken manure compost could reduce heptachlor residue in mustard until below MRLs (Maximum Residue Limits=0,05 ppm) (p ≤0,014). Mustard yield higher than control, namely179 g/pot or increase of 13%.

Keywords: Bioremediation, heptachlor, Pseudomonas mallei, Trichoderma sp, and Brassica juncea.,L.

Ċ
Lingkungan Tropis,
Sep 29, 2015, 6:44 AM
Comments